Memahami Sunat Perempuan dari Sisi Medis, Hukum dan Syariat


Seperti sunat laki-laki, praktek sunat perempuan, tetap saja menjadi sebuah kontroversi. Salah satu sisi disarankan, satu sisi tidak dianjurkan karena dianggap menciderai bagian organ intim wanita dalam hal ini vulva (genitalia eksterna wanita). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan sunat perempuan/ female circumcision sebagai sebuah prosedur yang mencakup eksisi suatu bagian genitalia ekterna wanita tanpa indikasi medis. Praktek sunat perempuan telah banyak dilakukan di beberapa negara Afrika, seperti Cameroon, Congo, Ethiopia, Gambia, Ghana, Kenya, Mali, Nigeria, Somalia, Sudan, Uganda dan Zambia. Praktek ini juga dilakukan di Yemen, Oman, Iraq, Palestine, Israel, Egypt dan Arab. “Sementara di Asia dilakukan di Indonesia, India, Malaysia, Pakistan dan Sri Lanka. Serta masih banyak lagi negara-negara di dunia,” ujar dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS selaku Pendiri Rumah Sunat dr. Mahdian atau yang dahulu dikenal Rumah Sunatan. Dari beberapa literatur yang dikumpulkan terkait tindakan sunat perempuan ini, motifasi masing-masing orang sangat berbeda. Salah satu pendapat mengatakan sunat perempuan dilakukan untuk mengkontrol gairah seksual seorang perempuan usia muda, yang selanjutnya menjaganya untuk tetap dalam keadaan virgin hingga menikah. Satu sisi sunat perempuan dilakukan untuk mempermudah wanita mencapai orgasme saat berhubungan intim dengan pasangannya.



Dari sisi Agama, sunat perempuan dilakukan pada kelompok Agama Islam dan agama lainnya, terkait doktrin mengenai sunat perempuan yang memang ada dalam kitab-kitab rujukan yang digunakan dalam agama tersebut. “Madzhab Asy-Syafi’i yang kebanyakan menjadi rujukan umat muslim di Indonesia bahkan memandang khitan pada laki-laki dan perempuan hukumnya wajib. Ini disampaikan Ulama besar bernama An-Nawawi tahun 676 H dalam kitabnya Minhaj At-Thalibin wa Umdatu Al-Muftiin fi Al-Fiqh,” ujar Ustz Aini Aryani, LC dari Rumah Fiqih Indonesia. Kehidupan beragama selanjutnya membawa seseorang masuk dalam kehidupan sosial di lingkungannya. Dengan demikian sunat perempuan menjadi sebuah bagian penting kehidupan yang harus dijalani seorang anak perempuan atau orang tua, terkait proses membesarkan seorang gadis dan mempersiapkannya hingga dewasa atau masa pernikahan.

Didalamnya juga mengandung banyak manfaat serta tidak menimbulkan bahaya apapun bila dilakukan sesuai yang dijelaskan Rasulullah SAW. Sementara dari sisi estetika, banyak orang berpendapat bahwa sunat perempuan memberikan daya tarik tersendiri dari sisi estetika, yang selanjutnya dapat meningkatkan kepuasan seksual pasangan prianya setelah menikah nanti. Sejarah dan Tipe Sunat Perempuan Sama seperti sunat pada pria, sunat perempuan juga dilakukan sejak zaman dahulu kala, terlihat dari bukti penemuan sebuah mummi perempuan yang sudah dilakukan sirkumsisi. Mengenai sunat pada perempuan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) membagi menjadi beberapa jenis, yakni; - Tipe 1, pada tipe ini sunat dilakukan dengan cara pengangkatan sebagain atau seluruh klitoris perempuan, termasuk pengangkatan preputium (kulit di sekitar klitoris) dan dalam dunia kedokteran disebut klitoridektomi. - Tipe 2, atau tipe eksisi dilakukan dengan cara pengangkatan sebagian atau seluruh klitoris dan labia minora yang merupakan kulit tipis seperti lidah yang berada di sekeliling vagina dengan atau tanpa eksisi dari labia majora. - Tipe 3, dilakukan dengan cara menjahit labia menjadi satu dengan tujuan membuat lubang vagina menjadi lebih kecil. Tindakan ini dalam dunia kedokteran disebut sebagai infibulation. Dengan atau tanpa melakukan pemotongan pada klitoris. - Tipe 4, atau tipe lainnya, diklasifikasikan sebagai semua tindakan yang dilakukan pada bagian luar alat kelamin perempuan (vulva), untuk tujuan non-medis baik dengan cara menusuk, melubangi, menggores, atau pemotongan daerah genital. Sunat Perempuan dan Hoodectomy “Di Indonesia, praktek sunat perempuan sudah dilakukan secara turun termurun terutama di kalangan umat muslim,” ujar Anhari Sultoni SH, MH.

Namun kemudian tidak lagi terdengar di awal tahun 2000, karena dikaitkan dengan sulitnya mencari tenaga medis professional yang mampu melakukan tindakan ini. “Berbeda dengan tindakan Female Genital Mutilation (FGM) yang menghilangkan secara total atau sebagian dari organ genitalia eksterna wanita. Sunat perempuan dilakukan dengan cara menggores kulit yang menutupi bagian depan klitoris tanpa sedikitpun melukai klitoris,” jelas dr. Valleria, SpOG. Perlakuan tudung (hoods) klitoris, mirip dengan tindakan hoodectomy yang jamak dilakukan dokter spesialis bedah di Dunia, namun dengan indikasi medis. Secara teknis, penorehan tudung klitoris dilakukan menggunakan needle khusus. Karena umumnya dilakukan pada usia kurang dari 5 tahun, dengan anatomi tudung klitoris yang masih sangat tipis dan belum banyak dilalui pembuluh darah serta saraf, tindakan ini sangat minim pendarahan dan rasa sakit. Penorehan tudung klitoris selanjutnya membuat klitoris “lebih terbuka” pada usia dewasa terkait perkembangan organ termasuk didalamnya vagina. Disisi lain kebersihan vagina terutama sekitar klitoris menjadi lebih terjaga dan terhindar dari bau yang tidak sedap.

Clitoral hoods (tudung klitoris) terbentuk secara genetik, tiap-tiap perempuan memiliki lebar dan tebal yang berbeda. Seiring bertambahnya usia, kelemahan atau elastisitas tudung kritoris menurun sehingga tidak sedap dipandang pasangan. Dalam beberapa kasus, kondisi ini bahkan membuat respon atau sensasi seksual menjadi terganggu. Dilain pihak seorang dokter asal London – Inggris, dr. Jacobson, mengatakan pada wanita yang memiliki masalah untuk mendapatkan kepuasan seksual/ orgasme saat berhubungan intim dengan pasangannya. Bisa jadi disebabkan tudung klitoris yang terlalu tebal, besar sehingga menutupi klitoris. Hal ini selanjutnya mengurangi rangsangan yang diterima klitoris selama melakukan aktivitas seksual. Dengan dilakuannya hoodectomy, klitoris menjadi terbuka yang selanjutnya meningkatkan rangsangan seksual yang didapatkan seorang wanita untuk mencapai orgasme secara lebih mudah. Di Afrika, sunat perempuan yang dilakukan merupakan tipe 1 dan 2 kriteria Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Sehingga menyebabkan sunat perempuan identik dengan pemotongan klitoris pada wanita. Secara anatomi pemotongan klitoris ini selanjutnya menyebabkan respon seksual wanita menjadi turun, dan memang tidak seharusnya dilakukan. Sunat wanita yang ada di masyarakat Indonesia dan Asia umumnya dilakukan dengan cara menoreh clitroral hood (tudung klitoris) atau ada juga yang memotongnya. Wanita yang terbuka klitorisnya, akan lebih mudah mencapai orgasme dibandingkan wanita yang tidak. Dalam penelitian yang di lakukan di Ingris, wanita yang memiliki klitoris terbuka, dengan tindakan hodectomy memiliki tingkat kepuasan seksual yang lebih tinggi mencapai 97,2 persen dibadingkan yang tidak. Klitoris dan penis memiliki kesamaan karena keduanya berperan penting dalam menentukan gairah seksual seseorang. Saat wanita dirangsang secara seksual klitoris menjadi lebih tegak dan membesar, kondisi ini mirip dengan penis pada pria. Tudung klitoris berfungsi melindung kepala klitoris. Fungsi dari tudung klitoris adalah melindungi klitoris yang sensitif dari iritasi, dan cidera dan juga mencegah stimulasi berlebih pada situasi non seksual.

Ukuran penutup klitoris sangat beragam, dari yang kecil hingga besar. Pada mereka kelompok indiviu dengan penutup klitoris yang besar, menjadikan kepala klitoris tidak bisa terlihat atau terpapar. Dari beberapa kepusatakaan yang ada ini dikaitkan dengan hormon tertentu atau gen tertentu. Tudung klitoris yang besar, akan menghambat gairah dan rangsang seksual sehingga membuat wanita sulit mencapai orgasme. Seperti sunat perempuan yang menjadikan klitoris sedikit terbuka, hoodectomy merupakan tindakan medis yang tidak membutuhkan rawat inap, dan hanya membutuhkan anastesi lokal. Tindakan ini hanya dilakukan dalam waktu 15 – 30 menit. Baik tindakan sunat perempuan maupun hoodectomy terbukti tidak menimbulkan kerusakan saraf disekitar klitoris, jika dilakukan oleh tenaga profesional. Paska tindakan hoodectomy pasien mungkin mengalami sedikit pembengkakan namun akan kembali normal setelah beberapa hari. Komplikasi paska tindakan yang dapat terjadi paska tindakan sunat perempuan maupun hoodectomy seperti infeksi dan pembengkakan. “Namun dapat diminimalisir tenaga medis dengan pemberian obat-obatan dan tindakan aspesis,” tambah dr. Valleria.

Tentang Rumah Sunat dr. Mahdian

Rumah Sunat dr. Mahdian adalah Circumcision Centre atau Pusat Pelayanan Khitan untuk segala usia, mulai dari usia bayi, anak-anak, remaja hingga dewasa. Dengan jaringan Klinik terbesar di seluruh wilayah Indonesia. Menyediakan layanan khitan konvensional maupun modern dengan tenaga medis yang handal. Rumah Sunat dr. Mahdian memiliki unit pelayanan khusus seperti Sunat Perempuan, Sunat Gemuk, Sunat Dewasa, dan Sunat Premium. Pelayanan Sunat Perempuan dimulai sejak tahun 2017, dilakukan di ruangan yang nyaman untuk anak usia 0 – 5 tahun, dan dilakukan oleh tenaga medis wanita profesional. Rumah Sunat dr. Mahdian pertama kali didirikan oleh dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS pada tahun 2006. Dengan ketekunan dan komitmen untuk memberikan pelayanan memuaskan bagi pasien dan keluarga, saat ini Klinik Rumah Sunat dr. Mahdian telah memiliki 47 cabang di seluruh Indonesia. Penerapan inovasi baru di bidang sunat, seperti metode “clamp” dan sunat tanpa suntik (needle-free injection), menjadi bagian peningkatan kualitas layanan Klinik Rumah Sunat dr. Mahdian.

© copyright 2018, Sunat Perempuan. Managed by Rumah Sunatan